Dua Abdurrahman Masa Perang Aceh Al-Zahir dan Teupin Wan – Bagian 1

By:
Categories: Uncategorized
No Comments

HABIB ABDURRAHMAN AL-ZAHIR

Ada beberapa “Habib Abdurrahman” yang terkenal dalam sejarah Aceh. Sebelum masa peperangan terdapat nama Habib Abdurrahman bin Hamid Al-Aidid (Menteri Perang Aceh pada masa Dinasti Syarif di abad ke-17 ). Dimana putra beliau Tengku Husein Al-Aidid yang mendirikan Mesjid Jamik Lebuh Aceh di Pulau Pinang . Lalu di masa perang Aceh terdapat nama Habib Abdurrahman Al-Zahir; mangkubumi kerajaan, diplomat dan panglima perang. Satu lainnya adalah Habib Abdurrahman Teupin Wan, juga panglima jihad yang terkenal sangat zuhud. Ketiga mereka ini sebagian dari keturunan Arab yang ikut mewarnai Aceh. Sejumlah literatur nampak “kebingungan” memilah tiga sosok “Habib Abdurrahman” ini, terutama antara “Abdurrahman Al-Zahir” dengan “Abdurrahman as-Sagaf” (Teupin Wan) yang sama-sama hidup dalam masa perang. Sehingga patut untuk dibahas kedua tokoh ini. Kali ini kita fokus pada Abdurrahman Al-Zahir yang kontroversial” itu.

HABIB ABDURRAHMAN AL-ZAHIR Berbagai literatur sejarah Aceh menyebutkan, Habib Abdurrahman Al-Zahir adalah seorang “pengkianat”.Beliau memilih menyerah kepada penjajah serta mendapatkan imbalan 10.000 dollar per bulan atas jasa “menjual bangsanya” kepada Pemerintahan Belanda. Ada dua hal menarik yang menjadi perhatian penulis, yaitu (1) “Pengkianat” dan (2) “Menjual Bangsanya”.

Dari sejumlah literatur penulis menemukan, Habib Abdurrahman Al-Zahir lahir di Tarim tahun 1832 M. Beliau adalah putra dari saudagar arabAs-Sayid Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur. Pada saat kedua orang tuanya hijrah dari Tarim (Yaman) ke Malabar (India) untuk berdagang, beliau dikirim memperdalam ilmu Agama Islam ke Mekkah dan Mesir sekitar tahun 1847 – 1852 M. Setelah memperoleh cukup ilmu, beliau kembali ke Malabar dan meniti karir sebagai tentara Kerajaan Haydarabad (India) sampai mencapai pangkat Kolonel. Habib Abdurrahman juga sering melakukan perjalanan ke Eropa bersama ayahnya untuk berdagang.

De Atjeh Oorlog (Paul Van’t Veer, 1969) menjelaskan, Habib Abdurrahman Al-Zahir pernah menjadi penasehat Sultan Johor (Malaysia) tahun 1862 M. Beliau datang ke Aceh atas rekomendasi Sultan tersebut.Disebutkan, ia berangkat ke Aceh melalui Pulau Pinang. Pada saat pertama di Aceh, oleh Sultan Aceh beliau diangkat menjadi Kepala Mesjid Raya Baiturrahman. Aceh ketika ia datang sedang mengalami perpecahan dalam negeri dan pertikaian antara sesama Ulee Balang.Kekuasaan Sultan ketika itu tidak berarti sama sekali. Berkat pengaruh Habib, kekuasaan Sultan bertambah kuat dan terjadi perubahan kearah positif di dalam negeri.Atas berbagai keberhasilannya menyelesaikan permasalahan intern Kerajaan, oleh Sultan beliau diangkat menjadi penasehat kerajaan.

Suatu ketika terjadi perselisihan antara Sultan Ibrahim Mansyur Syah dengan anaknya Tuanku Zainal Abidin. Sultan justru berencana hendak menjadikan Tuanku Mahmud (Putra Sultan Sulaiman Syah) sebagai penggantinya. Habib berhasil mendamaikan perselisihan paham yang timbul antara ayah dan anak ini. Sayangnya tidak seorang pun di antara mereka itu berumur panjang, mula-mula meninggal Tuanku Zainul Abidin akibat suatu penyakit parah.Setelah itu meninggal pula Sultan Ibrahim Mansur Syah, tidak lama setelah mewasiatkan bahwa penggantinya adalah Tuanku Mahmud.Tetapi,karena ia belum dewasa untuk menjalankan roda pemerintahan, maka diangkatlah Habib Abdurrahman Al-Zahir sebagai pemangku kerajaan (mangkubumi).

Paul Van’t Veer dalam bukunya “Perang Aceh” menceritakan, pada tahun 1871 M, seorang pegawai Hindia Belanda untuk urusan Dalam Negeri yaitu E.R Krayenhoff mengadakan pertemuan dengan Sultan dan Habib Abdurrahman yang saat itu memangku jabatan Perdana Menteri Aceh. Dalam pertemuan itu, pihak Kerajaan Aceh Darussalam tidak menyetujui kemauan Belanda karena dalam perjanjian yang diusulkan merugikan pihak Aceh. Belanda bermaksud menguasai Aceh.Maka mulailah pemimpin Aceh melakukan kegiatan diplomatik untuk persiapan menghadapi niat Belanda.

Habib Abdurrahman Al-Zahir diutus Sultan untuk melakukan diplomasi dengan negara-negara sekutu Kerajaan Aceh Darussalam seperti Turki, Inggris dan Perancis.Tetapi pendekatan yang dilakukan Habib terhadap Turki tidak begitu membuahkan hasil. Turki sendiri saat itu sedang mulai kehilangan pengaruh dan mengalami kemunduran, bahkan dijuluki “The SickOld Man of Europe”. Meskipun demikian, mereka tetapmerespondengan mengirimkan beberapa perwiranya untuk membantu Aceh. Sedangkan Inggris dan Perancis tidak memberikan bantuan apa pun dikarenakan mereka lebih memihak ke Belanda.

Ketika Habib Abdurrahman mencari dukungan luar negeri, Sultan dan pemimpin Aceh lainnya melakukan musyawarah kenegaraan di dalam Masjid Baiturrahman   yang dipimpin oleh Khadi Mufti Besar Aceh bernama Syekh Marhaban bin Haji Muhammad Saleh Lambhuk. Dari musyawarah tersebut terbentuk Kabinet Perang Aceh dimana Sultan sebagai Kepala Negara, Tuanku Hasyim Banta Muda Kadir Syah sebagai Menteri Perang, Tuanku Mahmud Banta Kecil Kadir Syah sebagai Menteri Dalam Negeri merangkap Wakil Kepala Negara, dan Tengku di Mulek sebagai Sekretaris Negara.

Pada tanggal 26 Maret 1873 M dibawah pimpinan J.F.N Nienhuyzen Belanda memaklumatkan perang kepada Aceh dengan alasan Aceh telah melanggar perjanjian niaga, perdamaian dan persahabatan. Pada perang pertama (11 April 1873 M) di bawah pimpinan Jendral Kohler Belanda menyerang Aceh.Namun penyerbuan ini gagal. Pasukan Belanda berhasil dipukul Mudur. Jendral Kholer pun ikut tewas tertembak di depan Mesjid Baiturrahman.Kejadian ini menghebohkan dunia serta membuat malu pemimpin Belanda di Den Haag.

Pada perang Aceh yang kedua (1874 – 1880M) pasukan Belanda datang kembali dengan armada yang lebih besar dan bersenjata lengkap.Serangan ini menyebabkan jatuhnya ibu kota Kerajaan Aceh Darussalam ke tangan Belanda. Pada saat itu, Habib Abdurrahman Al-Zahir masih berada di luar negeri. Mendapat kabar bahwa Belanda telah menguasai Ibu Kota Kerajaan, beliau segera pulang ke Aceh melalui Penang.Tetapi beliau tidak dapat masuk ke Aceh karena terdapat pengawasan yang ketat oleh pihak Belanda terhadap setiap kapal yang ingin bertolak ke Aceh.

Habib Abdurrahman termasuk orang yang di “Black List” oleh pihak Belanda untuk masuk ke Aceh.Hal tersebut dikarenakan pihak Belanda sudah mendapatkan latar belakang Habib dan besarnya pengaruh beliau terhadap masyarakat Aceh saat itu. Pada Maret 1876 M, berkat usaha gigihnya,akhirnya Habib berhasil masuk ke Aceh dengan menyamar sebagai “kelasi” bersama dengan Teuku Paya, Nya’ Bahrum dan beberapa pejuang Aceh lainnya.

Selama peperangan melawan Belanda, Habib Abdurrahman dipercaya sebagai pemimpin perang. Pasukannya seringkali menyusahkan Belanda. Sehingga, Belanda memutuskan untuk menambahkan kekuatan pasukannya dengan jumlah pasukan yang besar dan perlengkapan yang cukup. Pasukan Belanda akhirnya berhasil mendesak sedikit demi sedikit pasukan Aceh yang melakukanjihad fisabilillah. Pada tanggal 28 Juli 1878 M, markas Habib Abdurrahman yang berada di Montasik diserang Belanda dan dapat dikuasai. Setelah itu beberapa daerah lain juga jatuh ke tangan penjajah.

Dalam catatan Jacobus Diderik Jan van der Hegge Spies(Kapten Kapal Curracao) yang membawa Habib ke Jeddah dari tanggal 24 November 1878 M sampai Januari 1879 M (catatan ini kemudian diterjemahkan oleh Anthony Reid) disebutkan, ……Sekali Masjid Montasiek jatuh ke tangan Belanda, ia sekali lagi mengadakan pertemuan dengan panglima perang.Waktu itu ia dengan terus terang mengatakan pada mereka, bahwa ia tidak melihat harapan lagi dan bahwa adalah bijaksana untuk menyerahkan diri bersama-sama dia. Mengenai dirinya, ia ingin agar dibebaskan dari tugasnya yang dipercayakan padanya, karena akan meninggalkan mereka dan akan menyerahkan diri kepada Belanda. Dari dua belas panglima yang hadir dalam pertemuan ini, tujuh orang dari mereka condong untuk menyerahkan diri, sedang lima orang tetap hendak meneruskan perang”.

Apabila kita melihat catatan diatas, dapat kita pahami bahwa disana Habib memberikan pandangannya untuk tidak meneruskan peperangan dimana dikhawatirkan akan menimbulkan kerugian yang lebih besar baik secara moril dan materil. Disatu sisi, beliau bermusyawarah dengan para pemimpin Aceh lain atas pandangannya itu.Artinya, beliau melakukan ini tidak secara diam-diam atau tanpa sepengetahuan pemimpin Aceh lainnya (dimana ada 7 pemimpin lainya yang bersama beliau).

Sedangkan masalah “hadiah” yang diberikan oleh Belanda sebesar 10.000dollar per bulan merupakan sebuah tradisi lama dari kaum penjajah apabila ada lawan politik yang ditangkap atau menyerahkan diri akan diberikan tunjangan. Banyak yang diberi hadiah oleh Belanda namun tidak mereka besar-besarkan.Tetapi pemberian kepada Habib Abdurrahman Al-Zahir terlalu dibesar-besar oleh pihak Belanda. Ini disebabkan beliau dahulunya terlalu banyak menyusahkan pihak Belanda, baik sebelum maupun ketika masa peperangan. Habib Abdurrahman Al-Zahir meninggal dan dimakamkan di Um Hawa Jeddah pada tahun 1314H/1896 M.

Apakah habib sendiri seorang pencari keuntungan materil dari peperangan? Jika dipahami secara benar, tentu bukan. Apabila beliau tergiur dengan uang, kenapa beliau bersusah payah berjuang bahkan menghabiskan uangnya untuk mencari dukungan ke Eropa dan Turki? Kenapa beliau bersusah payah menyamar untuk bisa masuk kembali ke Aceh, merubah diri dari fungsi seorang diplomat untuk ikut langsung secara fisik berjuang bersama rakyat?

Apabila ditinjau dari materi, beliau adalah anak saudagar kaya dan memiliki harta berlebih.Kenapa harus mengemis kepada Belanda? Beliau juga keluarga dari Mufti Tarim Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Al-Masyhur. Mereka ini keluarga terpandang di Hadramaut. Adalah kekeliruan beberapa ahli sejarah ketika menganggap beliau sebagai “pengkianat” atau “menjual bangsanya”. Mereka tidak mendapatkan pemahaman yang utuh asal-usul dan background keseluruhan dari sosok sang pejuang, terutama dari pada penulis barat yang tidak senang dengan pejuang-pejuang Islam di masa dahulu sehingga banyak menutupi bukti-bukti sejarah tentang kejayaan Islam di bumi nusantara.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujarat Ayat 6 Allah berfirman “Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini – dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) – sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan” .