Dua Abdurrahman Masa Perang Aceh Al-Zahir dan Teupin Wan – Bagian 2

By:
Categories: Uncategorized
No Comments

HABIB ABDURRAHMAN TEUPIN WAN

Dalam beberapa literatur sejarah sering menggabungkan Antara Habib Abdurrahman Al-Zahir dengan Habib Abdurrahman Teupin Wan.SejarahAceh mencatat bahwaHabibAbdurrahmanTeupin Wan atau Habib Itam mempunyai nama asli Habib Abdurrahman bin Hasan Assegaf yang berasal dari Gampong Teupin Wan dekat Lamjong, sudah memulai perang jihad menghadapi Belanda sejak pertama meletus perang Aceh pada tahun 1873 M. Dalam buku “ATJEHH.C Zentgraaff menuliskan bahwa habib ini mempunyai pengaruh besar di dalam perang Aceh serta memiliki kelebihan-kelebihan (karamah), sehingga beliau disegani oleh lawan dan kawan.

Snouck Hurgronje menyebutkan, di antara keturunan Arab yang berpengaruh di Aceh adalah Habib Teupin Wan, seorang panglima dalam peperangan melawan “kaphee”., terdapat juga Habib Lhong, Habib Samalanga dan pejuang lainnya. Siapakah sebenarnya sosok Habib Teupin Wan ini? . Hasil interview penulis dengan Ir. Sayid Abdurrahman bin Junaid Asseqaf, MM ( Salah satu keturunan dari saudara Habib Abdurrahman Teupin Wan ) menyebutkan bahwa Habib Abdurrahman Teupin Wan mempunyai dua orang saudara yang berlainan ibu di Pase yaitu Habib Segaf Assegaf dan Habib Cek Assegaf.

Sayid Abdurrahman bin Junaid Assegaf menjelaskan juga bahwa keluarga Assegaf ini merupakan keturunan dari pada Waliyullah Al-Imam Abdurrahman bin Muhammad Mauladawilah yang berasal dari Hadramaut (Yaman). Hal ini sesuai yang dijelaskan dalam kitab Syamsu Ad Dhahirah yang dikarang oleh Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur yang menyebutkan bahwa orang yang pertama sekali digelar dengan Assegaf adalah Waliyullah Habib Abdurahman bin Muhammad Mauladawilah.

Sebagaimana dijelaskan oleh L.W.C Van den Berg dalam bukunya Le Hadramaut et les Colonies Arabes dans l’Arcpel Indien (1886) menjelaskan bahwa “ Adapun hasil nyata dalam penyiaran agama Islam ke Nusantara adalah dari orang-orang Sayyid/Syarif”. Hal ini juga di jelaskan Dr.Muhammad Hasan Alaydrus dalam bukunya “Para Syarif Hadramaut” bahwa penyebaran dakwah Islamiyah di Asia Tenggara melalui hijrahnya para keluarga Syarif Hadramaut ke Negeri Bawah Angin (Asia Tenggara sekarang) . Jadi jelas bahwa Habib Abdurrahman Teupin Wan merupakan salah satu keturunan Syarif Hadramaut yang berhijrah ke Aceh.

Beliau mendapat pendidikan agama langsung dari ayahnya Habib Hasan Assegaf atau yang lebih dikenal dengan nama Habib Chick Teupin Gapeuh dimana makamnya terdapat di Desa Lam Nibong Kecamatan Sampoinet Aceh Utara. Di Sampoinet inilah Habib Teupin Wan menikah dan dikaruniai seorang anak yang bernama Habib Cut. Karena keilmuan beliau dalam bidang agama banyak keluarga yang berpengaruh di Aceh menyerahkan anak-anak mereka kepadanya untuk belajar mengaji Ilmu Agama.

Sejak pertama perang Aceh berkecamuk beliau sudah ikut berjuang melawan penjajah Belanda dan pengaruh beliau terlihat setelah hilangnya orang-orang seperti Habib Abdurrahman Al-Zahir dan Habib Samalanga. Dalam peperangan melawan Belanda banyak tokoh-tokoh besar Aceh telah gugur, tetapi beliau masih terus berjuang untuk mempertahankan Bumi Serambi Mekkah dari cengkraman Kolonial. Beliau dikenal sebagai tokoh yang zuhud dan mempunyai semangat yang tinggi untuk mengusir Belanda dari Tanah Rencong.

Hal ini terbukti dimana beliau mengabaikan seruan dari pada Keluarga Kesultanan Aceh yang mengirimkan surat kepada beliau bersertaTeungku Mahyiddin , Teungku di Buket ibnal-Mukarram Maulana al-Mudabbir al-Malik Teungku di Tiro , Teungku Hasyim , Teungku di Ulee Tuetue , Teungku Ibrahim dan sekalian pengikutnya yang berperang Sabilillah di dalam rimba belantara negeri Pedir untuk tunduk kepada Kolonial Belanda ( Surat tersebut ditulis di Kutaraja, Kampung Kedah pada 18 Rajab 1327 H ).

Surat tersebut diatas ditemukan pasukan marsose dipimpin Komandan Schmidt dalam kantong baju Teungku Maat yang syahid pada 3 Desember 1911 di Alue Bhot, Tangse, Pidie. Belanda karenanya mencatat bahwa 4 Desember 1911 adalah hari akhir Aceh sebagai entitas yang berdaulat, dan hari kemenangan Belanda atas Kerajaan Aceh Darussalam. Sayangnya perang Aceh terus dilakukan oleh para pejuang Aceh secara geriliya dibelantara hutan Pidie khususnya dan diseluruh Aceh yang banyak menyusahkan pihak Belanda.

Habib dan putranya terus berjuang melawan Belanda sehingga putra semata wayang habib gugur sebagai syuhada dalam perang Aceh pada tahun 1910 Mbersama Tengku Beb, tetapi hal ini tidak membuat Habib patah semangat untuk melawan para penjajah Belanda. Sesudah meninggal anaknya itu ia menjadi semakin saleh, nilai harta benda duniawi semakin tidak berarti baginya dibandingkan dengan terus berjihad fisabilillah.

Dalam bukunya “Atjeh” H.C Zentgraaff menceritakan bagaimana komandan Z.H.C Schemidt dan serdadunya melakukan pelacakan dan pengepungan terhadap Habib Abdurrahman Teupin Wan dan pejuang lainnya di pegununan wilayah Tangse. Dimana H.C Zentgraaff merupakan redaktur kepala surat kabar De Java Bode. Mantan serdadu Belanda yang pernah ikut dalam perang Aceh, setelah pensiun dari militer kemudian bekerja sebagai wartawan perang.

Komandan Schemidt berhasil menemukan tempat persembuyian Habib Abdurrahman Teupin Wan pada bulan September 1911 M, sehingga terjadilah pertempuran yang sengit. Sang Habib bertahan dengan pasukannya. Para anggota pasukan (marsose) mengeliligi ulama tua ini dan bertempur dengan karaben, kelewang dan Rencong selama mereka masih bernyawa.

Beliau sendiri syahid dalam pertempuran tersebut dan di makamkan di Desa Blang Dalam Tangse Gunong Halimon, ( Pidie ) pada tahun 1911 M. Dengan gugurnya Habib Abdurrahman Teupin Wan seakan-akan menutup babak perjuangan para ulama di Tiro.. Dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran Ayat 169 Allah berfirman “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizqi “.

Ada beberapa pelajaran yang dapat dikutip dari perjuangan Habib Abdurrahman Teupin Wan dan ulama-ulama yang telah berjuang untuk mengusir kaum penjajah dari muka bumi Aceh, diantara nila keikhlasan pengorbanan dan jihad. Habib Abdurrahman rela meninggalkan keluarga dan kekayaaan hanya untuk berjuang supaya tanah air tercinta tidak jatuh ke tangan kaum penjajah. Nilai pengorbanan ini patut dicontoh oleh para pemimpin-pemimpin di Aceh, dimana mereka perlu berkorban dalam segala hal untuk dapat membawa Aceh siap bersaing dengan daerah-daerah lain bahkan dengan dunia international dalam segala bidang.

Nilai yang kedua berjihad, Habib Abdurrahman berjihad samapi tetes darah terakhir tanpa gentar sedikit pun terhadap kaum penjajah sehingga beliau syahid. Nilai ini perlu dihayati juga oleh para pemimpin-pemimpin di Aceh dimana mereka perlu berjihad bukan untuk melawan musuh tetapi berjihad untuk menerapkan hukum islam secara kaffah di Bumi Sultan Iskandar Muda.

Nabi Muhammad S.A.W bersabda : “ Berdirinya seorang jihad dalam fisabillillah itu lebih baik/utama dari pada shalat sendiri di rumah selama tujuh puluh tahun. Apakah kamu tidak suka diampuni dan dimasukkan ke syurga? Berjuang fisabillillah, siapa yang berjihad fisabilillah meskipun selama hanya memeras susu unta, pasti ia akan mendapat balasan syurga (HR.Imam Turmudzi).