Misteri Asal Usul Habib Bugak Asyi

By:
Categories: Sejarah
No Comments

Wakaf adalah salah satu konsep pemberian harta yang terdapat di dalam Islam. Konsep ini juga adalah berlandaskan konsep sedekah. Salah satu contoh teladan yang sangat mulia ditunjukan oleh Habib Bugak Asyi yang telah mewakafkan tanah beliau dihadapan Hakim Mahkamah Mekkah yang terletak di daerah Qusyasyiah (antara Marwah dan Mesjid Haram, di sekitar pintu Bab al Fatah sekarang) kepada rakyat Aceh.

Harta yang di wakaf (Al-Mawquf) sekarang telah mencapai nilai triliyunan rupiah   berupa sebuah tanah yang dibangun hotel berbintang (Funduk Ajyad) 25 lantai serta menara (Burj Ajyad) setinggi 28 tingkat yang mampu menampung sekitar 7000 jama’ah. Hotel berbintang tersebut dibangun oleh pengusaha Malaysia, tidak kurang Rp. 25 Milyar per tahun dikembalikan kepada Pemerintah Aceh melalui Pengelola Harta Wakaf tersebut yang ada di Mekkah.

Berdasarkan fakta diatas, banyak dari kalangan para sejarahwan dan ilmuwan lainya yang tertarik untuk mengkaji tentang asal-usul Habib Bugak Asyi. Apabila berbicara tentang asal usul tentunya tidak akan terlepas dari pada Ilmu Nasab. Dengan ilmu nasab kita dapat mengetahui asal usul setiap anak manusia begitu pula dengan Habib Bugak Asyi. Dalam beberapa tahun ini muncul opini bahwa Habib Bugak Asyi adalah Habib Abdurrahman Al-Habsyi. Siapakah Habib Abdurrahman Al-Habsyi ? sehingga beliau dikatakan adalah Habib Bugak Asyi.

Dalam manuskrip yang tersimpan pada pihak keluarga Habib Abdurrahman Al-Habsyi, di jelaskan bahwa ia bernama Habib Abdurrahman bin Alwi Peusangan, seorang tokoh ulama yang masyhur pada awal abad ke-18 dan beliau juga orang kepercayaan Sultan Aceh untuk mengelola tanah mulai wilayah Peusangan sampai Kr.mane dan Cunda. Beliau adalah cucu dari pada Habib Ahmad bin Syeikh Al-Habsyi, dimana Habib Ahmad Al-Habsyi adalah seorang yang sangat disegani dan memiliki karamah di wilayah Peusangan, diantara beliau dapat menghusir hama tikus.

Habib Abdurrahman Al-Habsyi memiliki 4 orang putra, dimana salah satunya adalah Habib Husein atau yang lebih dikenal dengan Tengku Chik Monkeulayu. Melalui Jalur Habib Husein inilah lahir seorang Habib yang keuramat yang sangat masyhur di Idi yakni Habib Shafi bin Ahmad Al-Habsyi. Menurut keterangan keluarga, Habib Abdurrahman dikebumikan di daerah Pante Sidoum, Kecamatan Jangka, Kab.Bireuan.

Dalam kajian Lembaga Asyraf Aceh (Lembaga Pendataan dan Pengkajian Silsilah Keluarga Sayyid di Aceh) mendapat bahwa ada beberapa buah fakta yang tidak begitu sesuai apabila dikatakan Habib Bugak Asyi adalah Habib Abdurrahman Al-Habsyi. Dengan beberapa argumentasi sebagai berikut.

Pertama, apabila ditinjau dari laqab atau kunyah Habib Bugak Asyi berbeda dengan laqab Habib Abdurrahman Al-Habsyi. Secara harfiah Habib Bugak Asyi merupakan laqab dari seorang keturunan sayyid yang bermukim Bugak atau berasal dari Bugak di wilayah Aceh sehingga beliau dikenal dengan sebutan Habib Bugak Asyi. Habib Abdurrahman Al-Habsyi dikenal dengan laqab Tengku Chik Peusangan atau Tengku Di Peusangan. Hal ini berdasarkan beberapa catatan atau manuskrip yang tersimpan pada keturunan Habib Abdurrahman Al-Habsyi , dimana dalam catatan tersebut dijelaskan bahwa Habib Abdurrahman Al-Habsyi mempunyai nama panggilan Tengku Di Peusangan (tersebut dalam manuskrip).

photo1

 

Gambar 1. Habib Abdurrahman bin Alwi Peusangan

photo1

Gambar 2. Tengku di Peusangan

Berdasarkan hal tersebut diatas tidak ada hubungan antara Habib Bugak Asyi dengan Habib Abdurrahman Al-Habsyi apabila ditinjau dari segi penggunaan laqab. Apabila ada juga sebagian pakar sejarah mengatakan bahwa Habib Abdurrahman Al-Habsyi disebut Habib Bugak karena beliau di makamkan di daerah Bugak, yang sebenarnya beliau di makamkan di Desa Pante sidoum Kemukiman Bugak Kecamatan Jangka, Bireuen (batas administrasi daerah saat ini). Di dalam manuskrip yang tersimpan pada Keluarga Habib Abdurrahman Al-Habsyi, disebutkan oleh Sultan Aceh bahwa wilayah Bugak dan Pante Sidoum adalah dua wilayah yang memiliki batas administrasi yang berbeda tetapi berada di bawah satu Wilayah Peusangan yang tunduk kepada Kerajaan Aceh Darussalam.

gambar2

Gambar 3. Sultan Menyebutkan bahwa Bugak dan Pante Sidoum Dua Wilayah yang memiliki batas administrasi yang berbeda.

Dari manuskripsi diatas jelas bahwa Bugak dan Pante Sidoum wilayah yang berbeda pada saat itu, jadi jelas bahwa Habib Abdurrahman Al-habsyi meninggal di Pante Sidoum hampir tidak mungkin beliau diberi gelar tempat dimana beliau tidak mempunyai hubungan kait baik itu lahir, meninggal atau lainnya.

Kedua, Habib Abdurrahman Al-Habsyi bukan merupakan pendatang dari jazirah arab tetapi seorang yang sudah lahir di Aceh. Hal ini berdasarkan sebuah catatan manuskrip yang menjelaskan bahwa Habib Abdurrahman Al-Habsyi merupakan anak cucu Tengku Ahmad Al-Habsyi. Menurut beberapa referensi manuskripsi keluarga Sayid disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Tengku Ahmad Habsyi adalah Ahmad bin Syiekh Al-Habsyi yang datang ke Aceh di perkirakan pada awal abad ke-17 di masa Kesultanan Syarief. Hal ini sangat sesuai dengan kitab rujukan nasab keluarga sayyid yang berasal dari Hadramaut yang menjelaskan bahwa beliau dan keturunanya berada di Aceh.

Ketiga, masa hidup Habib Abdurrahman Al-Habsyi berdekatan dengan Ikrar Waqaf tetapi hal ini bukan sebuah ukuran yang kuat untuk menyatakan beliau adalah Habib Bugak. Pada masa abad ke-18 sudah sangat banyak komunitas sayyid Hadramaut di wilayah Aceh yang berhijrah ke Nusantara dengan misi dakwah, berdagang dan politik. Dan catatan yang sangat penting adalah sayyid-sayyid yang datang ke Nusantara tidak hanya dari kalangan Sayyid Hadramaut tetapi juga dari belahan dunia lain.

Aceh merupakan salah satu daerah dimana penduduknya bersifat heterogen yang banyak diidatangi oleh para pedagang dari berbagai Jazirah Arab. Untuk menjadikan indikator masa hidup berdekatan dengan masa ikrar wakaf adalah kurang tepat dikarena sesuai dengan penjelasan diatas terlalu banyak sayyid yang hidup pada saat yang sama, diantaranya Keluarga Abu Futheim, Al-Hadad, Alaydrus, Al-Mahdali, Al-Aidid dan lainnya. Apabila kita sudah tidak menjumpai lagi keluarga tersebut di wilayah Peusangan bukan berarti bahwa keluarga tersebut tidak pernah ada di wilayah Peusangan karena salah satu karakter keluarga sayyid adalah suka berhijrah baik dengan alasan dakwah, dagang dan politik.

Keempat, Dalam kajian Lembaga Asyraf Aceh tidak ada satu bukti pun yang menunjukan kepemilikan tanah Habib Abdurrahman Al-habsyi di Mekkah dan secara cerita turun temurun pun tidak didapatkan riwayat beliau berasal dari Mekkah. Hal ini juga menjelaskan sebagaimana penjelasan diatas yang menjelaskan bahwa beliau adalag cucu Habib Ahmad bin Syeikh Al-Habsyi yang meupakan keturunan dari pada seorang alim Habib Ahmad bin Hasyem bin Ahmad Shahib Syiib Al-Habsyi yang wafat di Bor, Tarim pada tahun 1115 H. Jadi jelas bahwa beliau bukan berasal dari Mekkah tetapi berasal dari Hadramaut, Yaman.

Kelima, ada juga argumentasi yang menjelaskan bahwa karena ada hubungan emosional antara Habib Abdurrahman Al-Habsyi dengan Syeikh Abdullah Al-Baid sehingga menunjuk Syeikh Abdullah Al-Baid sebagai Nazir pertama wakaf Habib Bugak Asyi. Hubungan emosional antara Habib Abdurrahman Al-Habsyi dengan Syeikh Abdullah Al-Baid terjalin dengan baik akibat sesama Bangsa Arab dan ada kemungkinan Habib Abdurrahman Al-Habsyi orang yang menfasilitasi Syeikh Abdullah Al-Baid untuk datang ke Wilayah Peusangan dikarena Habib merupakan seorang Alim Ulama yang masyhur dan disegani pada saat itu di wilayah Peusangan. Sehingga dengan kedatangan Syeikh Abdullah Al-Baid ke Wilayah Peusangan selain untuk berdakwah juga untuk memperkuat sendi-sendi keislaman di tanah Peusangan, dimana beliau memilih tinggal di pinggiran Sungai Tikem sebelah atas , yang sekarang dikenal sebagai Awee Geutah.

Jadi hubungan emosional tidak menunjukan secara langsung bahwa Habib Abdurrahman Al-Habsyi adalah Habib Bugak Asyi yang telah mewakafkan harta bendanya di Jalan Allah SWT dan kemaslahatan orang Aceh di Tanah Mekkah. Berdasarkan beberapa fakta diatas dari hasil kajian Lembaga Asyaraf Aceh menunjukan bahwa belum ada bukti-bukti yang kuat bahwa sebenarnya Habib Abdurrahman Al-habsyi adalah Habib Bugak Asyi. Walaupun sampai saat ini asal usul Habib Bugak masih misterius dikarenakan untuk mengkaji tentang jati diri atau asal usul Habib Bugak Asyi dibutuhkan bukti-bukti yang otentik dan jelas dikarenakan apabila salah dalam memprediksi atau menjelaskan jati diri seseorang, maka hal ini juga akan berdampak pada pemalsuan asal-usul dan merusak nasab seseorang.

 

Oleh : Sayyid Murtadha Alaydrus